Beranda » Biografi » Autobiografi Sofyan Asnawie
click image to preview activate zoom

Autobiografi Sofyan Asnawie

Rp 140.000
Stok Tersedia
Kategori Biografi
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Order Cepat
Bagikan ke

Autobiografi Sofyan Asnawie

Judul : Autobiografi Sofyan Asnawie

Penulis : Sofyan Asnawie

Ukuran : 15,5 x 23

Tebal : 212 Halaman

Cover : Soft Cover

No. ISBN : 978-634-235-748-4

No. E-ISBN : 978-634-235-749-1 (PDF)

Terbitan : Desember 2025

SINOPSIS

Menangisi Negeri dari Ujung Perbatasan

Pertemuan singkat namun penuh makna dengan Panda Nababan—salah satu redaktur Harian Sore Sinar Harapan—menjadi titik balik dalam perjalanan jurnalistik Sofyan Asnawie. Saat itu, di tengah riuhnya kunjungan Jaksa Agung Ali Said ke Balikpapan, Panda menyapa Sofyan yang hadir sebagai wartawan koran Sampe, dan dengan hangat mengajaknya bergabung sebagai koresponden Sinar Harapan di Kalimantan Timur.

Percakapan mereka tak panjang, tapi meninggalkan kesan mendalam. Di akhir obrolan itu, Panda berpesan, “Kirim beritamu ke redaksi lewat saya. Saya pastikan dimuat.” Sebuah janji sederhana yang membuka jalan bagi Sofyan untuk menjadi saksi sejarah dari wilayah yang kerap terlupakan: perbatasan Indonesia-Malaysia.

Namun jalan jurnalisme tak selalu mulus. Oktober 1986, Sinar Harapan dibredel. Sofyan kehilangan panggungnya, menganggur berbulan-bulan. Tapi takdir membawanya kembali lewat ajakan Panda Nababan yang kini berada di harian Prioritas. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Suara Pembaruan, hingga akhirnya kembali ke Sinar Harapan pada 2012, rumah yang dulu menyambutnya.

Di dua media besar itu—SP dan SH—Sofyan menjadikan perbatasan Indonesia-Malaysia sebagai fokus tulisannya. Ia menulis bukan sekadar memberitakan, tapi menyuarakan keresahan dan harapan dari wilayah yang sunyi dari perhatian. Kasus Sipadan-Ligitan menjadi panggung utamanya. Hampir tiap pekan, tulisannya hadir—berteriak saat negeri justru diam.

Sinar Harapan dan Suara Pembaruan menjadi satu-satunya media yang secara konsisten mengangkat isu Sipadan-Ligitan sebelum akhirnya kedua pulau itu resmi lepas dari Indonesia pada 2002. Di balik itu semua, ada Sofyan Asnawie—wartawan yang tak hanya meliput, tapi benar-benar menangisi hilangnya dua pulau milik ibu pertiwi.

Seperti yang pernah dikatakan Panda Nababan, “Sofyan adalah wartawan yang menangisi Sipadan-Ligitan sejak awal, saat belum ada yang peduli.”

Autobiografi Sofyan Asnawie

Berat 300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 161 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Temukan juga kami disini
Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Silahkan klik untuk chat ini

Okta Rahayu
● online
Okta Rahayu
● online
Halo, perkenalkan saya Okta Rahayu
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: